Ratih Purwasih - Antara benci dan rindu

Posted on | Monday, November 2, 2015 | No Comments

Yang…
Hujan turun lagi
dibawah payung hitam kau berlindung

Yang…
ingatkah kau padaku
dijalan ini dulu kita berdua
basah tubuh ini, basah rambut ini
kau hapus dengan sapu tanganmu

Yang…
rindukah kau padaku
tak inginkah kau duduk disampingku
kita bercerita tentang laut biru
disana harapan dan impian

ref:
benci…benci… tapi rindu jua…
memandang wajah dan senyummu sayang
rindu…rindu… tapi benci jua…
bila ingat kau sakiti hatiku
antara benci dan rindu disini
membuat mataku menangis

Yang…
pernahkah kau bermimpi
kita bersatu bagai dulu lagi
tak pernah bersedih
tak pernah menangis
seperti saat rindu begini

Yang…
hujan turun lagi
ketika kulewati jalan ini
aku ingat engkau yang
basah tubuhmu basah rambutmu
kuhapus dengan sapu tanganku

Yang…
akupun rindu padamu
akupun ingin duduk disampingmu
kita bercerita tentang laut biru
tentang langit biru
disana tumpuan dan harapan

Ratih Purwasih - Kasih sayang yang hilang

Posted on | Thursday, August 6, 2015 | No Comments

Kalau saja ayah dan ibunda tak pernah sengketa
Mungkin aku tak pernah bertanya siapa yang salah
Mana (mana) impian indah ayah dan bunda
Apakah ini jawabnya engkau bahagia
Di potret saja


Kalau saja ayah dan ibunda tak pernah berpisah
Mungkin tak pernah aku merasa takut bercinta
Mana ( mana) cerita indah untuk dunia
Sedang kini yang kurasa bagai burung terbang entah kemana


Kemana oh kemana kucari kasih sayang yang hilang
Kemana oh kemana kucari ayah bunda yang
Kemanakah tangan-tangan yang dulu hangat
Berkasih sayang

Ratih Purwasih - Pernahkah dulu

Posted on | Friday, May 29, 2015 | No Comments

Pernahkah dulu aku paksakan
kau harus menulis surat cintamu
Pernahkah dulu aku paksakan
Kau harus aku mengajak aku berkencan
Tapi maumu sendiri
Tapi memang kita suka
Semua karena rasa cinta
Pernahkah dulu aku meminta
gaun pengantin berenda biru
Pernahkah dulu aku meminta
Kita bersumpah di depan penghulu
Tanpa restu kedua orang tuaku
Rela aku rela demi kamu
Tapi setelah diri
Berkorban seutuhnya untukmu
Tega kau lakukan itu
Tinggal serumah dengan yang lain
Jangankan diriku
Semua pun kan marah
Wanita mana yang mau di madu
Pernahkah dulu aku paksakan
Kau harus menulis surat cintamu
Pernahkah dulu aku paksakan
Kau harus aku mengajak aku berkencan
Tapi maumu sendiri
Tapi memang kita suka
Semua karena rasa cinta
Pernahkah dulu aku meminta
Gaun pengantin berenda biru
Tapi sekarang aku yang minta
Putuskan saja ikatan cintaku
Biarku sendiri mencari jalan hidupku
Ibu maafkan anakmu..
Tapi setelah diri
Berkorban seutuhnya untukmu
Tega kau lakukan itu
Tinggal serumah dengan yang lain

Jangankan diriku
Semua pun kan marah
Wanita mana yang mau di madu

Ratih Purwasih - Surat cinta

Posted on | Thursday, May 28, 2015 | No Comments

 Membaca surat cinta
Yang tuan tuliskan
Ingat kisa cinta Siti Nurbaya

Merangkaikan pujian berperibahasa
Ku tahu maksudnya
Menyanjung diriku

Wajah cantik dan ayu siapa yang punya
Mata lentik dan sayu siapa yang punya
Ku yang bangga, bahagia, siapa yang punya
Kalau bukan tuan kekasih saya

Wajah cantik dan ayu siapa yang punya
Mata lentik dan sayu siapa yang punya
Ku yang bangga, bahagia, siapa yang punya
Kalau bukan tuan kekasih saya

Pandainya tuan pula
Membuat bahagia
Pada yang pertama mengenal cinta

Tak pernah sekalipun aku melupakan
Membaca suratmu
Surat tanda cinta

Wajah cantik dan ayu siapa yang punya
Mata lentik dan sayu siapa yang punya
Ku yang bangga, bahagia, siapa yang punya
Kalau bukan tuan kekasih saya

Ratih Purwasih - Mawar bunga

Posted on | Thursday, December 4, 2014 | No Comments

 Kuberikan padanya setangkai mawar bunga
Tanda kasih sayangku untuknya
Namun aku tak tahu apa yang dirasakan
Hanya satu pintaku, kasih sayangnya

Mengapa.. mengapa..
Ku jatuh cinta padanya o ya
Mengapa.. cinta padanya

Andaikan diterimanya tanda kasih sayangku
Ku kan menyerahkannya semua milikku

Namun aku tak tahu apa yang dirasakan
Hanya satu pintaku, kasih sayangnya

Mengapa.. mengapa..
Ku jatuh cinta padanya o ya
Mengapa.. cinta padanya

Andaikan diterimanya tanda kasih sayangku
Ku kan menyerahkannya semua milikku

Ratih Purwasih - Ingatkah kau padaku

Posted on | Tuesday, November 11, 2014 | No Comments

Yang, hujan turun lagi
Di bawah payung hitam ku berlindung
Yang, ingatkah kau padaku
Di jalan ini dulu kita berdua
Basah tubuh ini, basah rambut ini
Kau hapus dengan sapu tanganmu
Yang, rindukah kau padaku
Tak inginkah kau duduk di sampingku
Kita bercerita tentang laut biru
Disana harapan dan impian
Benci benci benci tapi rindu jua
Memandang wajah dan senyummu sayang
Rindu rindu rindu tapi benci jua
Bila ingat kau sakiti hatiku
Antara benci dan rindu disini
Membuat mataku menangis
Yang, pernahkah kau bermimpi
Kita bersatu bagai dulu lagi
Tak pernah bersedih, tak pernah menangis
Seperti saat rindu begini

[Spoken :]
“Yang, hujan turun lagi
Ketika ku lewati jalan ini
Aku ingat engkau yang,
Basah tubuhmu, basah rambutmu
Ku hapus dengan sapu tanganku
Yang, akupun rindu padamu,
Akupun ingin duduk disampingmu.
Kita bercerita tentang laut biru,
Tentang langit biru,
Disana tumpuan dan harapan”
Benci benci benci tapi rindu jua
Memandang wajah dan senyummu sayang
Rindu rindu rindu tapi benci jua
Bila ingat kau sakiti hatiku
Antara benci dan rindu disini
Membuat mataku menangis
Yang, pernahkah kau bermimpi
Kita bersatu bagai dulu lagi
Tak pernah bersedih, tak pernah menangis
Seperti saat rindu begini
Tak pernah bersedih, tak pernah menangis
Seperti saat rindu begini

Ratih Purwasih - Mau apa lagi

Posted on | Thursday, August 28, 2014 | No Comments

 Apa salahku pada dirimu akhir-akhir ini
Semua yang engkau mau,
Semua yang kau inginkan, telah ku turuti

Tapi-tapi mengapa semua selalu salah bila di depan matamu
Harus ku bagaimana harus berbuat apa
Hingga engkau tak marah

Engkau berubah, memang berubah jauh di mataku
Bicaramu tak lain menganggapku tak pantas
Jadi pendampingmu

Mengapa kau katakan setelah kau miliki
Apa yang engkau inginkan
Dulu susah kau sayang, kini senang kau bilang
Aku tak pantas lagi

Sudah, sudah tak cinta mau apa lagi
Sudah, sudah tak sayang harus apa lagi
Wajah ku tak mungkin lagi kembali s’perti muda dulu
Namun hatiku ini sama seperti dulu

Engkau berubah, memang berubah jauh di mataku
Bicaramu tak lain menganggapku tak pantas
Jadi pendampingmu

Mengapa kau katakan setelah kau miliki
Apa yang engkau inginkan
Dulu susah kau sayang, kini senang kau bilang
Aku tak pantas lagi

Sudah, sudah tak cinta mau apa lagi
Sudah, sudah tak sayang harus apa lagi
Wajah ku tak mungkin lagi kembali s’perti muda dulu
Namun hatiku ini sama seperti dulu

Popular Posts

Search This Blog

Register LinkCollider

Link Collider - Best SEO Booster

Contact Form

Archives